Minggu, 02 Juni 2019

2 Juni 2019

Selamat ulang tahun, sayangku.
Kamu tau begitu banyak harapan yang aku utarakan malam ini. Tentang kebaikanmu ditambahkan, tentang mimpimu di wujudkan, tentang bahagiamu yang menyertai sisa umurmu. 
3 tahun berlalu, kita biasa mengucap doa bersama. Berharap aku akan menjadi peneman disetiap ulang tahunmu. Terimakasih sudah menjadi sosok yang terlalu sabar untukku, hadir dengan semua uluran tanganmu. Terimakasih untuk sayangmu, semoga hal hal baik yang kamu kasih kepadaku akan berbalik kepadamu melalui orang orang terdekatmu.


Semoga bahagia selalu, Git.
Love,




Dina

Rabu, 10 Januari 2018

Menjelang Hariku dan Kado Terindah.

Berganti lagi tahun, dan bertambah lagi usiaku sebentar lagi. dan masih kamu menjadi hadiah terindah tahun ini. kamu harus tahu betapa aku tersenyum kala menulis kata kata ini yang tak mampu aku ucapkan dimanapun. aku bahkan teringat bagaimana kamu membawa boneka itu, tidak romantis memang namun kamu tau cara tepat untuk membuatku sedih dan bahagia secara bersamaan. Dan kamu tau bagaimana aku tersipu kala itu, ditengah gemuruh bahagiaku doa terselip aku ingin menjadi wanita terpantas untukmu, entah aku tidak bisa menjamin doaku terkabul yang pasti aku sangat bersyukur bisa melewati hal hal penting bersama kamu.

Kamu tau aku sosok wanita cengeng yang selalu merajuk dikala hariku tiba, aku ceritakan saja disini kali aja nanti kamu baca. aku paling engga suka kalau orang orang terdeket aku lupa, padahal aku berusaha inget hari hari penting mereka dan kamu tau aku itu pelupa tapi aku berusaha jadi orang pertama yang ngucapin mereka. aku bukan perempuan yang akrab bersama orang tuaku asal kamu tau, kita selalu ribut bahkan untuk sekedar peluk atau mengharap dicium mereka harus nunggu lebaran hehe, lucu tapi aku iri jadi kamu jangan galak galak sama ibu kamu. karna ada banyak orang yang susah untuk bilang sayang ke ibu sendiri contohnya aku. aku harus nunggu hari itu untuk diucapin dan dipeluk, bahkan aku selalu minta buat ulang tahun terus biar engga ada alesan buat sekedar peluk atau cium mereka, aku nangis sih. Dan yaa kamu tau kan gimana aku keselnya kalo ada yang lupa ulang tahun aku, aku bisa ngamuk dan gamau ngomong, dan singkat cerita waktu ulang tahun ke 18 papa aku ngucapin ulang tahun lewat SMS saking gengsinya, dan itu hari pertama papa inget ulang tahun aku. 

dan sekarang aku punya orang orang yang paling aku prioritasi walau dari jauh aku sayang mereka dan kamu harus tau seberapa penting mereka buat aku. ya Nanda, Rido dan Azumah adalah orang teratas yang aku sayang abis itu kamu. hehe maaf tapi mereka adalah orang orang yang ada disaat aku butuh sampe tuhan ngirim kamu sampe sekarang buat jagain aku. kalian Kado terindah yang Tuhan kasih buat aku, karna aku yakin semua yang hilang akan diganti dengan orang yang jauh lebih baik. aku bangkit dan menjadi yang tekuat buat kalian. jangan bilang aku lemah, aku tau kalian banyak banget kesibukan tapi asal kalian tau untuk bilang kangen aja sekarang ga pantes. tapi serius andai kalian baca ini aku cuma mau bilang "Dina sayang kalian pake banget,dan selalu doain kebahagiaan kalian biar bisa nyusul liat dina seneng kayak sekarang"

Kado Terindah Tuhan itu, Sigit Maulana.
kenapa karna disaat Semut udah ada dilangit, Tuhan ngasih kamu buat jagain aku. kamu tau dulu aku suka nangis diem diem gitu karna pas meluk kamu aku ngerasa si Semut ada disini, kamu harus kenal dia. aku akan coba cerita di next tulisanku. Kamu tempat tenyaman buat cerita bagian terkelam sampai terbaik buat aku, kamu jadi pondasi aku dikala aku mulai jenuh. kamu satu paket yang Tuhan kasih waktu aku berdoa minta dikasih bahagia yang harusnya berpihak sama aku. dikala dunia meremehkan kamu, kamu terus maju dan engga pernah untuk mundur sedikitpun. kalau A ya A engga usah bohong pake bilang B. Dan Dina Bangga Banget sama Sigit!!!!!. Bahagia terus yaaa, dina selalu berdoa disetiap pergantian tahun untuk bisa bareng sama kamu, ngerayain dengan ucapan manis di SMS bisa digandeng terus, bisa liat kamu takut aku tabok, bisa jadi orang yang berpengaruh baik buat kamu. bisa liat kembang api terus sama kamu, dan menjadi alasan kamu terus semangat buat ngelawan dunia sama sama. Engga pernah minta yang lain, karna kalian udah kado terbaik di hidup aku, pelengkap dan tau porsi untuk ngerti tanpa harus sok tau tentang diri aku. Dan terakhir, dari wanita yang tidak baik yang sedang berusaha menjadi yang terbaik, tolong tetap disini dan jangan kemana mana. Salam sayang dari yang ingin berpindah umur, dan salam rindu untuk kesayangan dina dimanapun kalian berada.

Jumat, 29 Desember 2017

Untuk Senjaku di Surga

Tahun berganti tahun, kamu sudah jauh tak tergapai. apa kamu semarah itu? kalau begitu maaf untuk kesekian kali yang hanya bisa kuucapkan. Aku sedang menata lagi mimpimu yang sudah pupus, ya dulu katamu Kelulusanmu nanti untukku, namun tuhan lebih tau yang terbaik diantara doa yang terbaik untukmu. setahun sebelum kamu pergi adalah bagian terbaik, walau aku pun belum bisa terima apapun itu karna aku cukup sadar diri kala itu. aku berjanji akan menjadi apa yang terbaik seperti pesanku walau terkadang sering ingkar. Iya aku jauh lebih kuat, iya aku jauh lebih tinggi dibanding mereka, iya aku akan lulus untuk kamu, dan aku sudah menemukan orang baik seperti kamu, apa aku boleh memanggilmu "Semut" lagi? rasanya rindu dipanggil "Ayam" oleh kamu. rasanya ada nyeri yang tak mereka ketahui.

Kedekatan kita menimbulkan banyak tanya karna kamu bilang cukup kita yang tau mereka engga begitu penting. aku rindu menyaksikan sore di danau itu, bersama kamu. apa sebegitu marahnya kamu hingga datang saja kemimpiku enggan. aku ingin menceritakan bagaimana aku jadi mahasiswa saat ini, aku ingin bercerita dia menyakiti aku lagi, aku ingin menceritakan aku sudah bekerja, dan aku ingin bercerita kalau aku sudah ke bangka ketempat waktu terakhir kamu pamit untuk pergi waktu itu. kamu selalu mengoceh di sms "yam, rambut aku botak ketemunya nanti ya aku malu" dan aku bahkan masih ingat tentang semua hal hal baik tentangmu. Aku sungguh rela aku tidak mengungkit hanya rindu ini mencuak, bahkan untuk mengucapkan terimakasih saja aku terlambat waktu itu, andai aku jauh lebih cepat mungkin kamu tidak semarah ini.

ya penyesalan itu terus ada, aku kehilangan pegangan untuk bercerita. dan satu yang selalu menjadi tameng yaitu "kamu jauh lebiih kuat yam, aku tau jadilah lebih tinggi dari dia yang nyakitin kamu. jangan sedih aku selalu ada buat kamu". bahkan rasanya sulit menggambarkan rasa rindu yang mencuak tentang sore itu, tentang senyum teduh yang kamu kembangkan setiap berpapasan denganku, dan tentang keterlambatan keterlambatan mengakui kamu. Maaf aku merindukanmu, Ayam sayang sama Semut.

Senin, 08 Juni 2015

Kehilangan

“maafkan aku sya, aku engga bisa ngelanjutin semuanya. Semoga kamu mendapatkan yang terbaik dibanding aku, selamat tinggal”
Ucapan kalsik itu lagi lagi meruntuhkan kekokohan hati ini yang sekian lama tak kubuka, dan baru ku persilahkan untuk dia memasukkinya selama 2 tahun terakhir. Setelah kejadian 7 bulan itu kami tak bisa bertemu bahkan pesan singkat terakhir yang kukirimpun tak pernah iya balas, dan rasanya bagai mimpi buruk aku tersesat dalam khalayanku saat ini. Bagaikan twrpisah oleh dunia berbeda di kota dan jarak yang ta begitu berbeda kita tak bisa bertatap bahkan untuk bertegur, dan aku mulai rindu.
“bil, dimana? bisa temenin beli buku? Tugas kampus penting, please temenin” ya rengekku yang mungkin sabil mulai jengah karena semenjak hubunganku berakhir aku hanya ingin bicara dengan sabil, sahabatku. Dia yang membantu semua deadline kampus yang mulai ku abaikan dan bila aku terus memikirkan hatiku aku tidak akan lulus tahun depan dan sabil akan membunuhku saat itu.
“iya, sya bentar ketemuan di toko buku biasa ya, tunggu di bagian novel nnti aku kesana, oke” selang dari sms terakhir sabil akupun berangkat, ya jarak toko buku dan rumahku sebenarnya hanya hitungan menit karena toko buku besar itu berada percis didepan komplek perumahanku. Suasana seperti sama aroma buku, keramaian ah sial aku tak suka tempat seperti ini, kalau bukan hal kampus aku lebih baik dirumah merenungi kerinduanku pada sosoknya.
Berteman dengan earphone aku memasuki keramaian dan ya aku mengambil satu novel dan berjalan berkellling, tanpa kusadari ternyata list lagulah yang mengambil seluruh imajinasiku saat ini, tanpa sadar aku menabrak sososk yang ternyata tak kusadari hingga aku lupa untuk meminta maaf.
“hey, kamu gak papa kan?” tanya pria itu. Iya pria yang selama ini menjadi mimpi-mimpi di dunia khayalku, sosok yang selalu ku cari namun dunia bagai mengharamkan kami bertemu. Namun apa yang kulihat hanya wujud bukan raka yang kukenal dia asing.
“ra..k..aa...?” pekikku.
“aku bukan raka, apa kita pernah ketemu? Ayo aku bantu kamu berdiri.” Uluran tangannya meleburkan semua pikiran anehku. Ya ternyata dia bukan raka. Kita sempat berbincang sampai akhirnya sabil datang. Bahkan kami sempat bertukar nomor ponsel, mungkin karena aku sangat merindukan sosok itu sampai tuhan mempertemukan sosok yang sama dengan pribadi yang jauh dari bayanganku.
Semalam sebulan dan genap ini bulan ketiga setelah pertemuanku dengannya, ya aku mulai merasa nyaman, entah karena aku merindukan sosok raka atau aku memang menyukainya. Ah sudahlah.. sabil pun tau aku dekat dengan pria yang berenkarnasi percis seperti raka tapi dia hanya bilang, “jangan jadikan dia sebagai pelarian kerinduanmu kepada raka, sya” ya sudah sering dia mengucapkan itu semenjak aku mulai mengenal bagas. Ya lelaki itu bernama bagas, kuliah di universitas dijakarta yang tidak begitu jauh dengan fakultasku saat ini, kita bahkan sering bertemu saling bercerita dan dia jauh dr dugaan dia hampir sama seperti raka. Dari caranya berbicara, berjalan bahkan cara dia mendeskripsikan tentang kopi, ya raka sungguh suka kopi. Ah tuhan, apa kau hadirkan dia sebgai pengganti kegelisahanku terhadap raka. Jika iya, jangan biarkan aku mencintainya sebagai sosok raka karena aku tak ingin menyakiti siapapun.
“sya, bagaimana dengan raka mu? Apa kamu sudah bertemu? Dengan raka itu?” tanyanya, seketika hayalku teringat kembali dan senyumku seketika berubah jadi pandangan kosong tanpa adanya kebahagiaan sebelumnya. “syaaa” panggilnya lagi.
“ohaha, sudahlah jika tuhan mempertemukannya lagi pasti aku akan bertemu” aku sedikit tak yakin akan hal yang aku ucapkan tapi sudahlah mungkin kalimat kebohongan ini akan menjadi motivasi untukku, miris.
****
Sudah genap setahun kedekatanku dengan bagas, dia sudah kenal dengan sabil sahabatku, walau sabil agak menjauhiku tapi sudahlah aku Cuma ingin bahagia walau tanpa ikatan. Setidaknya ini hal yang membuatku melupakan sosok raka dalam lamunku. Di kafe pelangi tempat kita biasa berbincang, ya karena kafe ini terletak diantara kedua fakultas kami yang lumayan berdekatan. Dan kita sudah bercerita tentang pribadi sampai dimana kecurigaanku tentang raka kembali muncul setelah bagas bercerita tentang kultur keluarganya, dan ya yang aku tau memang keluarga raka telah berpisah semenjak raka kecil dan dia tinggal bersama mamanya di kota ini. Fokusku buyar dan ketika aku berbicara apakah dia punya kembaran gelagatnya seperti, aneh tapi sudahlah mungkin perasaanku saja. Lucu, jika dia adalah kembaran dan ternyata raka ada dua? Oh tuhan teka teki ini? Sudahlah.
Malam telah larut perjalanan malam minggu kami yang kesekian telah selesai acara nonton pementasan, ya begitulah bagas dia sangat suka dengan dunia seni. Semua yang berbau seni dia suka. Dan bedanya raka suka dengan dunia olahraga, ah sudahlah mulai lagi aku membedakan mereka. Senyumnya yang mengembang mengantarkanku pulang terus membuatku ingat bagaimana raka tersenyum dan lagi lagi khayalku pada pria itu tak bisa ku gubris ini tepat 2 tahun raka meninggalkanku dan aku belum bisa melihatnya lagi, tuhan aku merindukannya. Jika boleh aku hanya ingin melihatnya walau sekat yang engkau ciptakan begitu besar, dan aku hanya ingin melihatnya sebentar walau tak bisa menyapanya, andai.
Selesai membersikan diri setelah seharian berkeliling, aku sampai lupa kalau sabil minta aku untuk membuka email, ya seperti biasa aku meminta sabil mengecek tugasku yang rumit menurutku, dan terkejutnya ketika aku melihat dompet bagas yang dia titipkan tertinggal. Langsung dengan sigap aku mengecek hape dan bagas tidak menanyakan dompetnya, aku pun menghubungi bagas namun nihil bagas tidak menjawab. Namun seketika rasa penasaranku tentang cerita keluarga bagas yang dua hari lalu dia ceritakan muncul kembali. Lancang memang membuka privasi seseorang tapi, sudahlah Cuma ingin melihat.
“foto ini? Dua anak ini dan itu mamanya raka kan? Apa??” pikiranku mulai berlarian, sabilpun harus memberikan masukan yang masuk akal akan pengelihatanku malam ini apakah iya mereka kembar? Apa iya kalaupun iya dimana raka? Kenapa kebetulan sekali ini tidak mungkin.
“haloo, sabillllllllllll kamu tau apa yang aku temukan malam ini? Iyaa ini ga mungkin sebuah kebetulann billl,” teriakku penuh penekanan.
“elah sya, suara kamu bisa dikecilin coba ceritain pelan pelan aku ga ngerti ah, kamu mau cerita tentang bagas mirip dengan raka (lagi) aku bosan “ ketusnya,
“engga, bil jadi begini.....” ceritaku panjang lebar dan jawaban menyebalkan lagi lagi yang aku dapat dari sabil.
“palingan itu diedit sya udahlah kamu terlalu percaya, mending istirahat yaaa anggep ajaa kebetulan. Move on sya” seketika telepon sabil terputus. Memang menyebalkan sekali punya sahabat seperti ini namun apa daya inilah kenyamananku bersamanya. Sudahlah biarkan ku cari tau sendiri. Ya tekat ini entah dari mana asalnya aku ingin sekali mencari tau tentang raka dan bagas. Kalo memang benar kenapa bagas begitu menyembunyikannya padaku? Sudahlah mungkin besok aku menanyakannya pada bagas langsung.
Pikiranku tentang semua ini membuat badanku lemas dan memberikan waktu yang cepat untuk mengistirahatkan sejenak pikiranku, raka aku merindukanmu.
***
Hampir sepekan aku tak bertemu dengan bagas ya bagas menghilang, bagaimana bisa? Dikampusnyapun tidak ada yang mengetahui keberadaan bagas, bahkan tidak ada satupun yang mengetahui tentang bagas entah rumah dan sebagainya ya bagi ditelan bumi. Dompet ini pun aku tak mendapatkan tanda pengenal hanya beberapa kartu kredit, foto dan uang. Tidak ada pengenal dan lain lain. Ya akupun memutuskan untuk menyinggahi rumah raka yang lama setelah aku tau bahwa ternyata raka sudah pindah dr sebelum kami putus, aku bertemu dengan pak soko dia adalah penjaga rumah raka, ya ternyata rumah ini masih milik keluarga raka hanya saja raka memutuskan pindah karena suatu hal dan akupun masih bingung dengan segala kemustahilan yang terjadi.
“assalamuallaiku, pak soko. Masih inget saya pak? Temennya raka yang dulu sering kesini” santunku sopan kepada sosok pria renta yang selalu terlihat ramah, seketika dia membukakan pintu gerbang rumah raka yang bisa dibilang besar itu.
“iya atuh neng masih inget saya sama non... syara kan? Silahkan masuk neng, tapi den raka sudah pindah dr dua setengah tahun lalu, habis dari situ hanya den riko yang main kesini itupun baru setahun belakangan dia balik kesini non” ceritanya panjang lebar, dan aku penasaran dengan sosok riko yang dibilang saudara raka. Dan kamipun berkeliling rumah dengan ramah pak soko menceritakan segala tentang keluarga raka. Dan hal yang buatku lemas ternyata benar raka punya kembaran dan apakah riko itu bagas? Dan kemana raka selama ini? Tuhan aku hanya ingin bertemu raka, sampai dikamar raka. Masih sama dan aku tak menyangka raka menyimpan banyak lukisan dan fotoku disana? Apa lukisan? Setauku dia sangat membenci menggambar tapi sudahlah tak terasa bulir bulir air mataku tumpah begitu saja, senyum mirisku terlalu tergambar sampai aku melihat foto kenangan terakhir kita dimana raka menatapku pekat dan aku meledeknya, tuhan rindu ini tumpah kepadanya. Pak soko membiarkanku untuk berada dikamar raka, bahkan aku juga merasa ada hal yang ditutupi pak soko hingga aku menemukan gitar milik bagas dikamar itu. Bagas? Riko?
“pak soko, saya pamit ya pak. Titip salam untuk tante sheila dan raka kalau ada kabar langsung beri kabar ya pak terimakasih juga untuk alamat riko pak” pamitku dan langsung melajukan mobilku ke daerah tebet dimana riko yang diceritakan pak soko itu tinggal disebuah rumah yang tidak begitu besar tp terlihat begitu minimalis. Berkali kali aku pencet bell itu tak ada yang membukakan hingga jantungku tak kuat berdiri ketika sebuah motor memasuki pagar rumah ini dan ya itu bagas?
“baa...g..as?” pekikku, bagaspun tak kalah kaget melihatku berlutut seperti melihat hantu.
“sya, kamu tau dari mana rumahku? Kamu kenapa? Ayo bangun sya” tangannya memegang bahuku untuk membantuku berdiri. Aku tak kuasa menahan rasa sakit entah apa aku merasa tuhan begitu lucu memberikanku teka teki tentang keberadaan raka.
“sekarang dimana raka, tuan RIKO yang pembohong!!!!”teriakku aku tak kuasa hingga menampar riko? Eh bagas? Atau siapalah namanya yang jelas aku berasa dipermainkan. Setelah kejadian itu aku pergi iya begitu jauh ketempat dimana aku merasa raka selalu menenangkanku. Iya disinilah raka mengucapkan janji untuk terus menyayangiku di villa di ujung bukit didaerah puncak. Hanya kita yang tau karena ini villa pribadi milik raka dan ini tempat menyendiri raka dan aku tak menemukan raka disini ya jelas sang penjaga rumahpun bilang sama seperti pak soko, kalau raka sudah tidak pernah kemari. Ah sudahlah aku hanya ingin tenang, setelah tenang aku memutuskan menyalakan ponsel dan ya jelas bagas dan sabil memenuhi semua notif di hapeku dan aku memang ingin sendiri menjawab siapa bagas? Dan dimana raka?. Aku hanya ingin melihat raka. Raka pergi dengan begitu tanda tanya dengan beribu pertanyaan kemana raka? Tuhan. Tak disangka kepenatanku membuatku tertidur pulas di taman bukit di villa ini bahkan hawa dinginnya tak ku gubris.  Dan selamat malam raka, bantu aku untuk segalanya, aku merindukanmu.
Tak terasa sinar mentari menusuk mataku dengan silaunya yang begitu terang, dan yang lebih mengagetkannya lagi siapa yang memindahkan aku? Ya aku sudah berada didalam kamar. Setahuku penjaga villa ini selalu pulang setelah pukul 8 dan villa ini kosong. Dan yang lebih mengaggetkan lagi sudah tersedia roti dan susu hangat dan secarik kertas dengan tulisan
buat bidadari kesayanganku silahkan dimakan, jangan sedih cantik. Selamat pagi kutunggu kamu ditempat biasa yaa, raka.”
Aku pun terhempas dan berlari keluar masih dengan dres dan rambut yang kalut, dengan air mata yang begitu deras dan ya larianku terhenti saat aku melihat sosoknya yang berdiri membelakangiku, akupun melanjutkan berlari dan memeluknya dari belakang. Namun aroma ini postur tubuhnya ini bukan raka, dan ya penglihatanku tercengang ketika dia bukan raka tapi bagas.
“kembalikan rakaku, kemana raka. Kenapa kamu bisa tau tempat ini. Rakaaaaaaaaa? Rakaaa?” histerisku tak terbendung, airmata dan amarah aku luapkan dengan teriakan nama raka saat itu. Bagas hanya terdiam melihatku dengan tatapan entahlah melihatku begitu hancur bagaspun ikut terduduk dan memlukku tanpa kata, dia membiarkanku meluapkan semua rasa sakitku selama ini kepada raka, meluapkan rindu dan semuanya hanya dibalas dengan pelukkan hangat dan seketika aku merasakan hadirnya raka disini. Aku sedikit tenang walau isakku masih terdengar, perlahan bagas mulai membenahkan posisi duduk kami dan mulai membuka pembicaraan dengan terus menggenggam tanganku erat, mungkin dia ingin menguatkanku saat ini.
“sya, maafin aku. Atas segala yang terjadi di hidupmu atas kehadiranku yang begitu cepat dan kebetulan.” Ceritanya dan air mataku mulai berjatuhan kembali “kamu siapa sebnarnya?” entah pertanyaan bodoh apa yang aku lontarkan saat ini.
“aku sebenarnya riko, yang diutus raka untuk menjaga bidadarinya saat ini, aku sudah lama mengamati kekacauanmu sya, tapi aku baru berani muncul sebagai bagas setelah setahun mengamatimu dr jauh.” Lanjutnya lagi dan bagas meberikan secarik kertas dengan liontin namaku dengan dua sayap. Aku tak bisa membendung perasaanku. “dan sya aku punya video untuk kamu tapi aku harap kamu tenangkan dan baca dulu surat raka yang dibuat setelah beberapa hari kalian putus, jika sudah susul aku di balkon villa, aku duluan sya” sepeninggalan bagas tak ada hentinya aku melihat kedua benda yang diberikan bagas itu.
“kepada bidadari yang aku sayang, maafkan perpisahan kita membuatmu seperti ini, membuatmu hancur dan kehilangan senyum itu, mana syara yang aku kenal menyebalkan? Sayang maafkan aku yang tak berterus terang kepadamu selama ini. Aku harap kamu bisa memafkan aku. Aku kirimkan malaikat baru yang kuharap tak meninggalkanmu seperti ini sya. Mungkin setelah baca ini kamu akan memakiku, tapi sayang aku tak ingin melihat kau menangisi kepergianku. Selamat anniversarry yang ke tiga sayang bukankah hari ini tepat tanggal jadi kita? Sayang mungkin setelah baca ini aku pun sudah jauh dan menjadi malaikatmu disana. Aku sakit sya, aku sudah mencoba namun tuhan ingin aku kembali kepadanya. Sya aku harap kamu bisa tanpa aku, janji jangan merepotkan sabil, jangan kamu bunuh saudaraku itu karena dia yang aku utus untuk menjaga bidadariku saat ini. Sya aku pergi bukan karena kau bosan dengan hubungan kita, tapi aku takut melihatmu menangisi kepergianku kelak, maafkan aku sya. Janji akan tetap senyum? Janji akan lulus dengan nilai baik, janji kita mau keliling dunia samasama akan aku wujudin dengan bagas penggantiku untuk kamu, jaga diri baik baik. Jangan nangis sya aku mohon aku pamit dan aku sangat merindukanmu, aku sayang kamu bidadariku. Dari aku orang yang sangat mencintaimu selalu. Raka”
Tangisku pecah saat itu aku tiada paham dengan rencana tuhan? Raka pergi bagas? Dan tuhan kenapa kau ambil cahaya hidupku. Apa salahku dan tak kusangka ini sudah raka persiapkan dan timing tuhan yang begitu berencana membuka segalanya di hari jadi kami. Aku berjalan gontai dengan air mata yang terus menetes dipipiku saat ini. Keadaanku sangat lusuh dan amat kacau.
“sya kamu baik baik saja? Sini duduk selamat hari jadi kalian yang ketiga ya sya, jangan sedih. Aku tau raka bisa sangat marah padaku bila melihat bibidarinya menangis” ledekknya sambil merangkulku duduk di ayunan balkon dan didepan sudah ada tivi dan pemutar video yang biasa raka gunakan disaat suntuk menemaniku memasak. “kamu lihat ini bukti betapa raka sebenarnya mencintaimu habis ini, aku akan mengantarkanmu ketempat raka sekarang berada”
Video itupun mulai diputar oleh bagas, aku terhenyak dan terus meneteskan air mata sampai akhirnya wajah pucat dan senyum lesu yang aku rindukan menampakan wujudnya dengan sebuah lukisan dan kalung yang tadi diberikan bagas padaku.
“hay cantik, selamat hari jadi yang ketiga tahun yaa. Maaf aku harus mengucapkan dengan keadaan seperti ini dan mengirimkan manusia menyebalkan itu untuk menenangkanmu, kuharap dia masih hidup setelah kamu tau aku sudah pergi menghadap tuhan. Hehe, sayang bagaimana lukisanku? Ini untukmu semoga kamu menyukainya dan kalung ini untuk bidadari yang tuhan kirim untuk menyemangati sisa hidupku. Aku dengar kamu masih suka nangis? Murung dan mengabaikan tugas kampusmu karena terlalu memikirkanku? Sya ayolah kenapa kamu begitu menyebalkan? Bangkit ya sayang, aku kembali ke tuhan bukan untuk meningglakanmu aku selalu berada di dekatmu percayalah, dan riko ku kirim untuk menjagamu dan maafkan dia yang sudah berbohong selama ini, ini rencanaku sayang. Beribu maaf dan ini persembahanku untuk bidadari menyebalkanku. Semoga kamu suka. Dan jangan nangis yaa sya. Aku sayang dan mencintaimu.”
Setelah perkataannya terakhir dia mulai bermain musik dengan menyanyikan lagu krispatih “lagu rindu” dan aku terhanyut menangisi kenangan yang satu persatu muncul dalam video yang diputarkan untukku. Tuhan, apa yang harus kulakukan? Kau begitu cepat mengambil sosok yang memujaku dan kau begitu baik menciptakannya dua dan mereka sangat mencintaiku, namun aku ingin raka saat ini. Rangkulan bagas yang melihat aku tertunduk lemas akibat kejadian yang bertubi tubi mungkin membuat bagas simpati kepadaku. “sya yakinlah raka sangat mencintai bidadarinya, sudah banyak hal yang raka ceritakan tentang kamu. Dan ku mohon jangan nangis . maafkan kami sya” pelukan riko membuat tangisku pecah.
Sepanjang perjalanan riko menceritakan segala tentang raka hingga raka mengambil ide gila untuk memutuskanku dan menghilang, dari penyakit hingga semua rencananya samapi hari ini. Aku tak banyak bicara hanya tertunduk lemas dengan airmata yang masih berjatuhan. Kita berjalan menyusuri bukit dan kebun teh hingga sampai di pemakaman keluarga raka di atas bukit dan disana ada tante sheila yang menyambutku dengan senyum dan pelukan hangat, aku bagai merasakan hadirnya raka makin terasa. Tak cukup waktu lama akupun sampai di pusara pemakaman kekasih yang ku fikir meninggalkanku karena wanita lain, sosok yang kukira amat jahat. Dan kini batu nisan ini menjadi saksi bagaimana raka amat mencintaiku. Aku menangis dan riko dan tante sheila meninggalkanku,aku terdiam. Dan ketika mengusap nisan yang bertuliskan Raka Bagaskara hatiku sakit, tangisku kembali pecah untuk kesekian dan kali ini aku benar benar tak percaya.
Aku tumpahkan segala resahku, berbicara, memarahi, meratapi bagai orang gila berbicara dengan batu nisan. Tapi percayalah aku hanya rindu dan kuharap segalanya ku ikhlaskan tuhan, jaga rakaku disana. Biarkan dia tenang dan maafkan aku untuk segala hal yang membuatnya terluka. Aku mencintaimu dan sangat mencintaimu, raka. Selamat tinggal.
Sepeninggalan kejadian itu aku kembali kejakarta diantar bagas, dan aku sudah bisa tersenyum. Iya aku tak ingin ingkar janji atas semua yang raka ucapkan kepadaku. Aku ingin mewujudkan janji kita yang kita rencanain. Aku mulai menata hidupku, menjadi manusia yang lebih baik, lebih bisa menerima apapun yang tuhan berukan dan aku percaya ini terbaik. Aku tak langsung menerima permintaan cinta bagas, ya dia mulai mencintai sosokku diam diam. Aku butuh waktu. Aku  tak ingin mencintainya karena aku melihat sosok raka, bukankah itu amat menyakitkan? Namun tuhan memberikan pria yang amat baik lagi, bagas atau Riko Bagaskara menerima keputusanku. Dan jalanku sudah begitu indah setelah kejadian itu. Aku masih sering mendatangi makan Raka hanya untuk memberitahukan segala kegiatanku dan melepas rinduku pada sosoknya.
“Tuhan, jaga malaikatku disana, berikan yang terbaik dan aku yakin segala yang Kau buat untuk ku dan raka adalah yang terbaik. Terimakasih telah mempercayakan raka padaku Tuhan. I Love You , Raka”