“maafkan aku sya, aku
engga bisa ngelanjutin semuanya. Semoga kamu mendapatkan yang terbaik dibanding
aku, selamat tinggal”
Ucapan kalsik
itu lagi lagi meruntuhkan kekokohan hati ini yang sekian lama tak kubuka, dan
baru ku persilahkan untuk dia memasukkinya selama 2 tahun terakhir. Setelah
kejadian 7 bulan itu kami tak bisa bertemu bahkan pesan singkat terakhir yang
kukirimpun tak pernah iya balas, dan rasanya bagai mimpi buruk aku tersesat
dalam khalayanku saat ini. Bagaikan twrpisah oleh dunia berbeda di kota dan
jarak yang ta begitu berbeda kita tak bisa bertatap bahkan untuk bertegur, dan
aku mulai rindu.
“bil, dimana?
bisa temenin beli buku? Tugas kampus penting, please temenin” ya rengekku yang
mungkin sabil mulai jengah karena semenjak hubunganku berakhir aku hanya ingin
bicara dengan sabil, sahabatku. Dia yang membantu semua deadline kampus yang
mulai ku abaikan dan bila aku terus memikirkan hatiku aku tidak akan lulus
tahun depan dan sabil akan membunuhku saat itu.
“iya, sya
bentar ketemuan di toko buku biasa ya, tunggu di bagian novel nnti aku kesana,
oke” selang dari sms terakhir sabil akupun berangkat, ya jarak toko buku dan
rumahku sebenarnya hanya hitungan menit karena toko buku besar itu berada
percis didepan komplek perumahanku. Suasana seperti sama aroma buku, keramaian
ah sial aku tak suka tempat seperti ini, kalau bukan hal kampus aku lebih baik
dirumah merenungi kerinduanku pada sosoknya.
Berteman dengan
earphone aku memasuki keramaian dan ya aku mengambil satu novel dan berjalan
berkellling, tanpa kusadari ternyata list lagulah yang mengambil seluruh
imajinasiku saat ini, tanpa sadar aku menabrak sososk yang ternyata tak
kusadari hingga aku lupa untuk meminta maaf.
“hey, kamu gak
papa kan?” tanya pria itu. Iya pria yang selama ini menjadi mimpi-mimpi di
dunia khayalku, sosok yang selalu ku cari namun dunia bagai mengharamkan kami
bertemu. Namun apa yang kulihat hanya wujud bukan raka yang kukenal dia asing.
“ra..k..aa...?”
pekikku.
“aku bukan
raka, apa kita pernah ketemu? Ayo aku bantu kamu berdiri.” Uluran tangannya
meleburkan semua pikiran anehku. Ya ternyata dia bukan raka. Kita sempat
berbincang sampai akhirnya sabil datang. Bahkan kami sempat bertukar nomor
ponsel, mungkin karena aku sangat merindukan sosok itu sampai tuhan mempertemukan
sosok yang sama dengan pribadi yang jauh dari bayanganku.
Semalam sebulan
dan genap ini bulan ketiga setelah pertemuanku dengannya, ya aku mulai merasa
nyaman, entah karena aku merindukan sosok raka atau aku memang menyukainya. Ah
sudahlah.. sabil pun tau aku dekat dengan pria yang berenkarnasi percis seperti
raka tapi dia hanya bilang, “jangan jadikan dia sebagai pelarian kerinduanmu
kepada raka, sya” ya sudah sering dia mengucapkan itu semenjak aku mulai
mengenal bagas. Ya lelaki itu bernama bagas, kuliah di universitas dijakarta
yang tidak begitu jauh dengan fakultasku saat ini, kita bahkan sering bertemu
saling bercerita dan dia jauh dr dugaan dia hampir sama seperti raka. Dari
caranya berbicara, berjalan bahkan cara dia mendeskripsikan tentang kopi, ya
raka sungguh suka kopi. Ah tuhan, apa kau hadirkan dia sebgai pengganti
kegelisahanku terhadap raka. Jika iya, jangan biarkan aku mencintainya sebagai
sosok raka karena aku tak ingin menyakiti siapapun.
“sya, bagaimana
dengan raka mu? Apa kamu sudah bertemu? Dengan raka itu?” tanyanya, seketika
hayalku teringat kembali dan senyumku seketika berubah jadi pandangan kosong
tanpa adanya kebahagiaan sebelumnya. “syaaa” panggilnya lagi.
“ohaha,
sudahlah jika tuhan mempertemukannya lagi pasti aku akan bertemu” aku sedikit
tak yakin akan hal yang aku ucapkan tapi sudahlah mungkin kalimat kebohongan
ini akan menjadi motivasi untukku, miris.
****
Sudah genap
setahun kedekatanku dengan bagas, dia sudah kenal dengan sabil sahabatku, walau
sabil agak menjauhiku tapi sudahlah aku Cuma ingin bahagia walau tanpa ikatan.
Setidaknya ini hal yang membuatku melupakan sosok raka dalam lamunku. Di kafe
pelangi tempat kita biasa berbincang, ya karena kafe ini terletak diantara
kedua fakultas kami yang lumayan berdekatan. Dan kita sudah bercerita tentang
pribadi sampai dimana kecurigaanku tentang raka kembali muncul setelah bagas
bercerita tentang kultur keluarganya, dan ya yang aku tau memang keluarga raka
telah berpisah semenjak raka kecil dan dia tinggal bersama mamanya di kota ini.
Fokusku buyar dan ketika aku berbicara apakah dia punya kembaran gelagatnya
seperti, aneh tapi sudahlah mungkin perasaanku saja. Lucu, jika dia adalah
kembaran dan ternyata raka ada dua? Oh tuhan teka teki ini? Sudahlah.
Malam telah
larut perjalanan malam minggu kami yang kesekian telah selesai acara nonton
pementasan, ya begitulah bagas dia sangat suka dengan dunia seni. Semua yang
berbau seni dia suka. Dan bedanya raka suka dengan dunia olahraga, ah sudahlah
mulai lagi aku membedakan mereka. Senyumnya yang mengembang mengantarkanku
pulang terus membuatku ingat bagaimana raka tersenyum dan lagi lagi khayalku
pada pria itu tak bisa ku gubris ini tepat 2 tahun raka meninggalkanku dan aku
belum bisa melihatnya lagi, tuhan aku merindukannya. Jika boleh aku hanya ingin
melihatnya walau sekat yang engkau ciptakan begitu besar, dan aku hanya ingin
melihatnya sebentar walau tak bisa menyapanya, andai.
Selesai
membersikan diri setelah seharian berkeliling, aku sampai lupa kalau sabil
minta aku untuk membuka email, ya seperti biasa aku meminta sabil mengecek
tugasku yang rumit menurutku, dan terkejutnya ketika aku melihat dompet bagas
yang dia titipkan tertinggal. Langsung dengan sigap aku mengecek hape dan bagas
tidak menanyakan dompetnya, aku pun menghubungi bagas namun nihil bagas tidak
menjawab. Namun seketika rasa penasaranku tentang cerita keluarga bagas yang
dua hari lalu dia ceritakan muncul kembali. Lancang memang membuka privasi
seseorang tapi, sudahlah Cuma ingin melihat.
“foto ini? Dua
anak ini dan itu mamanya raka kan? Apa??” pikiranku mulai berlarian, sabilpun
harus memberikan masukan yang masuk akal akan pengelihatanku malam ini apakah
iya mereka kembar? Apa iya kalaupun iya dimana raka? Kenapa kebetulan sekali
ini tidak mungkin.
“haloo,
sabillllllllllll kamu tau apa yang aku temukan malam ini? Iyaa ini ga mungkin
sebuah kebetulann billl,” teriakku penuh penekanan.
“elah sya,
suara kamu bisa dikecilin coba ceritain pelan pelan aku ga ngerti ah, kamu mau
cerita tentang bagas mirip dengan raka (lagi) aku bosan “ ketusnya,
“engga, bil
jadi begini.....” ceritaku panjang lebar dan jawaban menyebalkan lagi lagi yang
aku dapat dari sabil.
“palingan itu
diedit sya udahlah kamu terlalu percaya, mending istirahat yaaa anggep ajaa
kebetulan. Move on sya” seketika telepon sabil terputus. Memang menyebalkan
sekali punya sahabat seperti ini namun apa daya inilah kenyamananku bersamanya.
Sudahlah biarkan ku cari tau sendiri. Ya tekat ini entah dari mana asalnya aku
ingin sekali mencari tau tentang raka dan bagas. Kalo memang benar kenapa bagas
begitu menyembunyikannya padaku? Sudahlah mungkin besok aku menanyakannya pada
bagas langsung.
Pikiranku
tentang semua ini membuat badanku lemas dan memberikan waktu yang cepat untuk
mengistirahatkan sejenak pikiranku, raka aku merindukanmu.
***
Hampir sepekan
aku tak bertemu dengan bagas ya bagas menghilang, bagaimana bisa?
Dikampusnyapun tidak ada yang mengetahui keberadaan bagas, bahkan tidak ada
satupun yang mengetahui tentang bagas entah rumah dan sebagainya ya bagi
ditelan bumi. Dompet ini pun aku tak mendapatkan tanda pengenal hanya beberapa
kartu kredit, foto dan uang. Tidak ada pengenal dan lain lain. Ya akupun
memutuskan untuk menyinggahi rumah raka yang lama setelah aku tau bahwa
ternyata raka sudah pindah dr sebelum kami putus, aku bertemu dengan pak soko
dia adalah penjaga rumah raka, ya ternyata rumah ini masih milik keluarga raka
hanya saja raka memutuskan pindah karena suatu hal dan akupun masih bingung
dengan segala kemustahilan yang terjadi.
“assalamuallaiku,
pak soko. Masih inget saya pak? Temennya raka yang dulu sering kesini” santunku
sopan kepada sosok pria renta yang selalu terlihat ramah, seketika dia
membukakan pintu gerbang rumah raka yang bisa dibilang besar itu.
“iya atuh neng
masih inget saya sama non... syara kan? Silahkan masuk neng, tapi den raka
sudah pindah dr dua setengah tahun lalu, habis dari situ hanya den riko yang
main kesini itupun baru setahun belakangan dia balik kesini non” ceritanya
panjang lebar, dan aku penasaran dengan sosok riko yang dibilang saudara raka.
Dan kamipun berkeliling rumah dengan ramah pak soko menceritakan segala tentang
keluarga raka. Dan hal yang buatku lemas ternyata benar raka punya kembaran dan
apakah riko itu bagas? Dan kemana raka selama ini? Tuhan aku hanya ingin bertemu
raka, sampai dikamar raka. Masih sama dan aku tak menyangka raka menyimpan
banyak lukisan dan fotoku disana? Apa lukisan? Setauku dia sangat membenci
menggambar tapi sudahlah tak terasa bulir bulir air mataku tumpah begitu saja,
senyum mirisku terlalu tergambar sampai aku melihat foto kenangan terakhir kita
dimana raka menatapku pekat dan aku meledeknya, tuhan rindu ini tumpah
kepadanya. Pak soko membiarkanku untuk berada dikamar raka, bahkan aku juga
merasa ada hal yang ditutupi pak soko hingga aku menemukan gitar milik bagas
dikamar itu. Bagas? Riko?
“pak soko, saya
pamit ya pak. Titip salam untuk tante sheila dan raka kalau ada kabar langsung
beri kabar ya pak terimakasih juga untuk alamat riko pak” pamitku dan langsung
melajukan mobilku ke daerah tebet dimana riko yang diceritakan pak soko itu
tinggal disebuah rumah yang tidak begitu besar tp terlihat begitu minimalis.
Berkali kali aku pencet bell itu tak ada yang membukakan hingga jantungku tak
kuat berdiri ketika sebuah motor memasuki pagar rumah ini dan ya itu bagas?
“baa...g..as?”
pekikku, bagaspun tak kalah kaget melihatku berlutut seperti melihat hantu.
“sya, kamu tau
dari mana rumahku? Kamu kenapa? Ayo bangun sya” tangannya memegang bahuku untuk
membantuku berdiri. Aku tak kuasa menahan rasa sakit entah apa aku merasa tuhan
begitu lucu memberikanku teka teki tentang keberadaan raka.
“sekarang
dimana raka, tuan RIKO yang pembohong!!!!”teriakku aku tak kuasa hingga
menampar riko? Eh bagas? Atau siapalah namanya yang jelas aku berasa
dipermainkan. Setelah kejadian itu aku pergi iya begitu jauh ketempat dimana
aku merasa raka selalu menenangkanku. Iya disinilah raka mengucapkan janji
untuk terus menyayangiku di villa di ujung bukit didaerah puncak. Hanya kita
yang tau karena ini villa pribadi milik raka dan ini tempat menyendiri raka dan
aku tak menemukan raka disini ya jelas sang penjaga rumahpun bilang sama
seperti pak soko, kalau raka sudah tidak pernah kemari. Ah sudahlah aku hanya
ingin tenang, setelah tenang aku memutuskan menyalakan ponsel dan ya jelas
bagas dan sabil memenuhi semua notif di hapeku dan aku memang ingin sendiri
menjawab siapa bagas? Dan dimana raka?. Aku hanya ingin melihat raka. Raka
pergi dengan begitu tanda tanya dengan beribu pertanyaan kemana raka? Tuhan.
Tak disangka kepenatanku membuatku tertidur pulas di taman bukit di villa ini
bahkan hawa dinginnya tak ku gubris. Dan
selamat malam raka, bantu aku untuk segalanya, aku merindukanmu.
Tak terasa
sinar mentari menusuk mataku dengan silaunya yang begitu terang, dan yang lebih
mengagetkannya lagi siapa yang memindahkan aku? Ya aku sudah berada didalam
kamar. Setahuku penjaga villa ini selalu pulang setelah pukul 8 dan villa ini
kosong. Dan yang lebih mengaggetkan lagi sudah tersedia roti dan susu hangat
dan secarik kertas dengan tulisan
”buat bidadari kesayanganku silahkan dimakan,
jangan sedih cantik. Selamat pagi kutunggu kamu ditempat biasa yaa, raka.”
Aku pun
terhempas dan berlari keluar masih dengan dres dan rambut yang kalut, dengan
air mata yang begitu deras dan ya larianku terhenti saat aku melihat sosoknya
yang berdiri membelakangiku, akupun melanjutkan berlari dan memeluknya dari
belakang. Namun aroma ini postur tubuhnya ini bukan raka, dan ya penglihatanku
tercengang ketika dia bukan raka tapi bagas.
“kembalikan
rakaku, kemana raka. Kenapa kamu bisa tau tempat ini. Rakaaaaaaaaa? Rakaaa?”
histerisku tak terbendung, airmata dan amarah aku luapkan dengan teriakan nama
raka saat itu. Bagas hanya terdiam melihatku dengan tatapan entahlah melihatku
begitu hancur bagaspun ikut terduduk dan memlukku tanpa kata, dia membiarkanku
meluapkan semua rasa sakitku selama ini kepada raka, meluapkan rindu dan
semuanya hanya dibalas dengan pelukkan hangat dan seketika aku merasakan
hadirnya raka disini. Aku sedikit tenang walau isakku masih terdengar, perlahan
bagas mulai membenahkan posisi duduk kami dan mulai membuka pembicaraan dengan
terus menggenggam tanganku erat, mungkin dia ingin menguatkanku saat ini.
“sya, maafin
aku. Atas segala yang terjadi di hidupmu atas kehadiranku yang begitu cepat dan
kebetulan.” Ceritanya dan air mataku mulai berjatuhan kembali “kamu siapa
sebnarnya?” entah pertanyaan bodoh apa yang aku lontarkan saat ini.
“aku sebenarnya
riko, yang diutus raka untuk menjaga bidadarinya saat ini, aku sudah lama
mengamati kekacauanmu sya, tapi aku baru berani muncul sebagai bagas setelah
setahun mengamatimu dr jauh.” Lanjutnya lagi dan bagas meberikan secarik kertas
dengan liontin namaku dengan dua sayap. Aku tak bisa membendung perasaanku.
“dan sya aku punya video untuk kamu tapi aku harap kamu tenangkan dan baca dulu
surat raka yang dibuat setelah beberapa hari kalian putus, jika sudah susul aku
di balkon villa, aku duluan sya” sepeninggalan bagas tak ada hentinya aku
melihat kedua benda yang diberikan bagas itu.
“kepada bidadari
yang aku sayang, maafkan perpisahan kita membuatmu seperti ini, membuatmu
hancur dan kehilangan senyum itu, mana syara yang aku kenal menyebalkan? Sayang
maafkan aku yang tak berterus terang kepadamu selama ini. Aku harap kamu bisa
memafkan aku. Aku kirimkan malaikat baru yang kuharap tak meninggalkanmu
seperti ini sya. Mungkin setelah baca ini kamu akan memakiku, tapi sayang aku
tak ingin melihat kau menangisi kepergianku. Selamat anniversarry yang ke tiga
sayang bukankah hari ini tepat tanggal jadi kita? Sayang mungkin setelah baca
ini aku pun sudah jauh dan menjadi malaikatmu disana. Aku sakit sya, aku sudah
mencoba namun tuhan ingin aku kembali kepadanya. Sya aku harap kamu bisa tanpa
aku, janji jangan merepotkan sabil, jangan kamu bunuh saudaraku itu karena dia
yang aku utus untuk menjaga bidadariku saat ini. Sya aku pergi bukan karena kau
bosan dengan hubungan kita, tapi aku takut melihatmu menangisi kepergianku
kelak, maafkan aku sya. Janji akan tetap senyum? Janji akan lulus dengan nilai
baik, janji kita mau keliling dunia samasama akan aku wujudin dengan bagas
penggantiku untuk kamu, jaga diri baik baik. Jangan nangis sya aku mohon aku
pamit dan aku sangat merindukanmu, aku sayang kamu bidadariku. Dari aku orang
yang sangat mencintaimu selalu. Raka”
Tangisku pecah
saat itu aku tiada paham dengan rencana tuhan? Raka pergi bagas? Dan tuhan
kenapa kau ambil cahaya hidupku. Apa salahku dan tak kusangka ini sudah raka
persiapkan dan timing tuhan yang begitu berencana membuka segalanya di hari
jadi kami. Aku berjalan gontai dengan air mata yang terus menetes dipipiku saat
ini. Keadaanku sangat lusuh dan amat kacau.
“sya kamu baik
baik saja? Sini duduk selamat hari jadi kalian yang ketiga ya sya, jangan
sedih. Aku tau raka bisa sangat marah padaku bila melihat bibidarinya menangis”
ledekknya sambil merangkulku duduk di ayunan balkon dan didepan sudah ada tivi
dan pemutar video yang biasa raka gunakan disaat suntuk menemaniku memasak.
“kamu lihat ini bukti betapa raka sebenarnya mencintaimu habis ini, aku akan
mengantarkanmu ketempat raka sekarang berada”
Video itupun
mulai diputar oleh bagas, aku terhenyak dan terus meneteskan air mata sampai
akhirnya wajah pucat dan senyum lesu yang aku rindukan menampakan wujudnya
dengan sebuah lukisan dan kalung yang tadi diberikan bagas padaku.
“hay cantik,
selamat hari jadi yang ketiga tahun yaa. Maaf aku harus mengucapkan dengan
keadaan seperti ini dan mengirimkan manusia menyebalkan itu untuk
menenangkanmu, kuharap dia masih hidup setelah kamu tau aku sudah pergi menghadap
tuhan. Hehe, sayang bagaimana lukisanku? Ini untukmu semoga kamu menyukainya
dan kalung ini untuk bidadari yang tuhan kirim untuk menyemangati sisa hidupku.
Aku dengar kamu masih suka nangis? Murung dan mengabaikan tugas kampusmu karena
terlalu memikirkanku? Sya ayolah kenapa kamu begitu menyebalkan? Bangkit ya
sayang, aku kembali ke tuhan bukan untuk meningglakanmu aku selalu berada di
dekatmu percayalah, dan riko ku kirim untuk menjagamu dan maafkan dia yang
sudah berbohong selama ini, ini rencanaku sayang. Beribu maaf dan ini
persembahanku untuk bidadari menyebalkanku. Semoga kamu suka. Dan jangan nangis
yaa sya. Aku sayang dan mencintaimu.”
Setelah
perkataannya terakhir dia mulai bermain musik dengan menyanyikan lagu krispatih
“lagu rindu” dan aku terhanyut menangisi kenangan yang satu persatu muncul
dalam video yang diputarkan untukku. Tuhan, apa yang harus kulakukan? Kau
begitu cepat mengambil sosok yang memujaku dan kau begitu baik menciptakannya
dua dan mereka sangat mencintaiku, namun aku ingin raka saat ini. Rangkulan
bagas yang melihat aku tertunduk lemas akibat kejadian yang bertubi tubi
mungkin membuat bagas simpati kepadaku. “sya yakinlah raka sangat mencintai
bidadarinya, sudah banyak hal yang raka ceritakan tentang kamu. Dan ku mohon jangan
nangis . maafkan kami sya” pelukan riko membuat tangisku pecah.
Sepanjang
perjalanan riko menceritakan segala tentang raka hingga raka mengambil ide gila
untuk memutuskanku dan menghilang, dari penyakit hingga semua rencananya samapi
hari ini. Aku tak banyak bicara hanya tertunduk lemas dengan airmata yang masih
berjatuhan. Kita berjalan menyusuri bukit dan kebun teh hingga sampai di
pemakaman keluarga raka di atas bukit dan disana ada tante sheila yang
menyambutku dengan senyum dan pelukan hangat, aku bagai merasakan hadirnya raka
makin terasa. Tak cukup waktu lama akupun sampai di pusara pemakaman kekasih
yang ku fikir meninggalkanku karena wanita lain, sosok yang kukira amat jahat.
Dan kini batu nisan ini menjadi saksi bagaimana raka amat mencintaiku. Aku
menangis dan riko dan tante sheila meninggalkanku,aku terdiam. Dan ketika
mengusap nisan yang bertuliskan Raka Bagaskara hatiku sakit, tangisku kembali
pecah untuk kesekian dan kali ini aku benar benar tak percaya.
Aku tumpahkan
segala resahku, berbicara, memarahi, meratapi bagai orang gila berbicara dengan
batu nisan. Tapi percayalah aku hanya rindu dan kuharap segalanya ku ikhlaskan
tuhan, jaga rakaku disana. Biarkan dia tenang dan maafkan aku untuk segala hal
yang membuatnya terluka. Aku mencintaimu dan sangat mencintaimu, raka. Selamat
tinggal.
Sepeninggalan
kejadian itu aku kembali kejakarta diantar bagas, dan aku sudah bisa tersenyum.
Iya aku tak ingin ingkar janji atas semua yang raka ucapkan kepadaku. Aku ingin
mewujudkan janji kita yang kita rencanain. Aku mulai menata hidupku, menjadi
manusia yang lebih baik, lebih bisa menerima apapun yang tuhan berukan dan aku
percaya ini terbaik. Aku tak langsung menerima permintaan cinta bagas, ya dia
mulai mencintai sosokku diam diam. Aku butuh waktu. Aku tak ingin mencintainya karena aku melihat
sosok raka, bukankah itu amat menyakitkan? Namun tuhan memberikan pria yang
amat baik lagi, bagas atau Riko Bagaskara menerima keputusanku. Dan jalanku
sudah begitu indah setelah kejadian itu. Aku masih sering mendatangi makan Raka
hanya untuk memberitahukan segala kegiatanku dan melepas rinduku pada sosoknya.
“Tuhan, jaga
malaikatku disana, berikan yang terbaik dan aku yakin segala yang Kau buat
untuk ku dan raka adalah yang terbaik. Terimakasih telah mempercayakan raka
padaku Tuhan. I Love You , Raka”